Ads 468 x 60

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

05/02/2014

05/02/2014

Tokoh Punokawan, Tokoh Wayang Cerita Ramayana dan Tokoh Wayang Mahabarata Versi Jawa

Tokoh Punokawan, Tokoh Wayang Cerita Ramayana dan Tokoh Wayang Mahabarata Versi Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tokoh Punokawan, Tokoh Wayang Cerita Ramayana dan Tokoh Wayang Mahabarata Versi Jawa

A) Tokoh Punokawan


  1. Semar adalah bapak dari Petruk dan Gareng.
  2. Gareng adalah Gareng lazim disebut sebagai anaknya Semar dan memiliki mata juling, hidung bulat, bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, tangannya bengkok.
  3. Petruk adalah adik dari Nala Semar Gareng. Memiliki pusaka Klithing (lonceng) wasiat. Memiliki sifat setia, suka prihatin, rajin, humoris, tangkas, dan bijaksana.
  4. Bagong adalah terjadi dari bayangan dari Sang Hyang Ismaya atas sabda Sang Hyang Tunggal, ayahnya. Ia mempunyai tabiat: layak lagu katanya anak-anak, lucu, suara besar dan agak serak, kata-katanya menjengkelkan, tetapi selalu tepat.


B) Tokoh Wayang Cerita Ramayana


  1. Sri Rama, berasal dari Kerajaan Ayodya, putra dari Prabu Dasarata dan Dewi Raghu. Pada masa kecil dan remaja di didik tentang keutamaan dan kesaktian oleh Begawan Wasistha. Sri Rama beristerikan Dewi Sinta.
  2. Dewi Sinta, putri Prabu Janaka, raja Negara Mantili. Dewi Sinta diyakini sebagai titisan Bathari Widowati, istri Bathara Wisnu. Selain sangat cantik, sopan santun dan suci ucapan, pikiran, dan hatinya.
  3. Lesmana atau disebut juga Laksamanawidagda merupakan putra Prabu Dasarata, raja Negara Ayodya dengan permaisuri kedua Dewi Sumitra. Mempunyai watak halus, setia dan tak kenal takut.
  4. Anoman. Wujudnya kera putih, putra Bathara Guru dengan Dewi Anjani, ia berwatak: pemberani, sopan santun, tahu harga diri, setia, rendah hati, kuat, dan tabah.
  5. Danaraja. Waktu mudanya bernama Wisrawana, di kenal pula gelarnya, Prabu Danaspati dan Prabu Bisawarna. Ia adalah putra tunggal Resi Wisura, raja Negara Lokapala dengan permaisuri Dewi Lokawati.
  6. Wisrawa. Putra Resi Supadma dari pertapaan GriJembatan, masih keturunan Bathara Sambodana, putra Bathara Sambu, Resi Wisrawa sangat sakti dan termashur dalam ilmu Kasidanan.
  7. Sukesi. Putri sulung Prabu Sumali, raja Negara Alengka dengan permaisuri Dewi Desidara, ia mempunyai watak sangat bersahaja, jujur, setia, dan kuat dalam pendirian.
  8. Dasamuka atau Rahwana merupakan putra Resi Wiswara dengan Dewi Sukesi, Putri Sumali. Ia berwatak angkara murka, ingin menangnya sendiri, penganiaya, dan pengkhianat.
  9. Kumbakarna. Arya Kumbakarna merupakan putra kedua Resi Wisnuwara dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali. Ia berwatak jujur, berani karena benar dan bersifat satria.
  10. Sarpakenaka. Putri ketiga dari Resi Wiswara dengan Dewi Sukesi, putri Sumali. Berwatak: cengkak, ganas, bengis, angkara murka, dan serakah.
  11. Sumali, putra Prabu Suksara, raja raksasa Negara Alengka dengan permaisuri Dewi Subakti. Ia memerintahkan Negara dengan arif bijaksana, adil, dan jujur.
  12. Prahasta, putra Prabu Sumali dengan Dewi Desidara. Berwatak: jujur, setia, dan penuh pengabdian.
  13. Jambumangli. Ditya Jambumangli adalah putra Ditya Maliawan, adik Prabu Sumali. Bertubuh agak pendek menurut ukuran raksasa, karena ketekunan bertapa, ia menjadi sangat sakti.
  14. Lembusura. Berwujud raksasa berkepala sapi (lembu). Karena kesaktiannya, dia diangkat menjadi patih Negara Guwa Kiskenda di bawah pemerintahan Prabu Maesasura, raksasa berkepala kerbau.
  15. Maesasura. Raja Negara Guwa Kiskenda. Berwujud  raksasa berkepala kerbau. Mempunyai patih yang bernama Lembusura, raksasa berkepala sapi.


C) Tokoh Wayang Mahabrata, versi Jawa


  1. Puntadewa adalah putra sulung Pandudewanata, raja Negara Astina dengan permaisuri Dewi Kunti. Berwatak: sabar, adil, jujur, ikhlas, percaya atas kekuasaan Tuhan, tekun dalam agamanya.
  2. Bima atau Werkudara, ia putra kedua Prabu Pandudewanata dengan Dewi Kunti. Sifat dan wataknya; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur.
  3. Arjuna, putra ketiga Pandudewanata dengan Dewi Kunti. Ia seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu.
  4. Nakula, putra keempat Prabu Pandudewanata dengan Dewi Madrim. Berwatak jujur, setia, taat, belas kasih, dan dapat menyimpan rahasia.
  5. Sadewa, putra kelima Prabu Pandudewanata dengan Dewi Madrim. Ia kembar dengan kakaknya, Nakula. Ia berwatak jujur, setia, taat, belas kasih, dan dapat menyimpan rahasia.
  6. Karna, tokoh wayang yang otodidak, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga. Ia menjadi lambang karakter manusia yang  tahu membalas budi dan rela berkorban bagi menangnya kebenaran.
  7. Baladewa, putra Prabu Basudewa, raja Negara Mandura dengan Dewi Mahendra. Berwatak keras hati, pemarah tetapi pemaaf, dan arif bijaksana.
  8. Erawati, putrid sulung Prabu Salya, raja Negara Mandakara dengan Dewi Pujawati. Berwatak: penuh belas kasih, setia, sabar, dan wingit.
  9. Antasena. Putra Bima atau Werkudara. Badannya berkulit sisik ikan atau udang hingga kebal dengan senjata. Berwatak: jujur, bersahaja, berani membela kebenaran.
  10. Gatotkaca. Dikenal sebagai Ksatria perkasa berotot kawat, bertulang besi. Ia adalah anak Bima dengan Dewi Arimbi. Ia adalah raja muda di Pringgodani, yang rakyatnya terdiri dari bangsa raksasa.
  11. Basudewa. Putra sulung Prabu Basukunti, raja Negara Mandura dengan Dewi Dayitya. Ia pandai olah keprajuritan dan mahir memainkan senjata panah dan lembing.
  12. Danurwenda. Arya Danurwenda adalah putra Arya Anantareja, raja Negara Jangkarbumi dengan Dewi Anggi. Ia bersifat dan berwatak: jujur, pendiam, dan sangat berbakti pada yang lebih tua.
  13. Dursasana. Putra Prabu Drestarasta, raja Negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari. Bersifat dan berwatak: takabur, gemar bertindak sewenang-wenang, besar kepala, senang menghina orang lain.
  14. Antaboga atau Sang Hyang Antaboga adalah penguasa dasar bumi. Ia beristana di Kahyangan Saptapratala atau lapisan ke tujuh dasar bumi.
  15. Gandari. Putrid Prabu Gandara, raja Negara Gandaradesa dengan Dewi Gandini. Ia bersifat: kejam, bengis, egois, dendam, dan berkhianat.
  16. Dursasala, putra Arya Dursasana, ia berbadan besar, gajah dan bermulut lemar. Dia berwatak dan bersifat: takabur, besar kepala dan meremehkan orang lain.
  17. Durna atau Resi Drona adalah putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Berwatak: tinggi hati, sombong, congkak, bengis, crewet.
  18. Brajamusti, putra kelima Prabu Arimbaka , raja raksasa Negara Pringgadani dengan Dewi Hadimba, ia bersifat mudah marah, agak bengsi, keras hati, dan ingin menangnya sendiri.
  19. Burisrawa, putra keempat Prabu Salya, raja Negara Mandaraka dengan Dewi Pujawati. Berwatak: sombong, dendam. Ia ingin menang sendiri dan suka berbuat onar.
  20. Cakil. Berwujud raksasa, dengan gigi tonggos. Ia bersifat: pemberani, tangkas, banyak tingkah dan pandai bicara. Ia berwatak kejam, serakah, dan mau menangnya sendiri.

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Jenenge Ratu Lan Negarane Ing Wayang Purwa

Jenenge Ratu Lan Negarane Ing Wayang Purwa


Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Jenenge Ratu Lan Negarane Ing Wayang Purwa

1
Prabu
Sentanu
Ratu ing
Ngastina
2
Prabu
Abiyasa
Ratu ing
Ngastina
3
Prabu
Pandhu Dewanata
Ratu ing
Ngastina
4
Prabu
Suyudana
Ratu ing
Ngastina
5
Prabu
Parikesit
Ratu ing
Ngastina
6
Prabu
Basudewa
Ratu ing
Mandura
7
Prabu
Baladewa
Ratu ing
Mandura
8
Prabu
Kresna
Ratu ing
Dwarawati
9
Prabu
Matswapati
Ratu ing
Wiratha
10
Prabu
Drupada
Ratu ing
Cempala
11
Prabu
Puntadewa
Ratu ing
Ngamarta
12
Prabu
Salya
Ratu ing
Mandaraka
13
Prabu
Janaka
Ratu ing
Manthili
14
Prabu
Dasarata
Ratu ing
Ngayodya
15
Prabu
Arjuna Sasrabahu
Ratu ing
Maespati
16
Prabu
Basukarna (Karna)
Ratu ing
Ngawangga
17
Prabu
Bomanarakasura
Ratu ing
Trajutrisna
18
Prabu
Dasamuka
Ratu ing
Ngalengka
19
Prabu
Ramawijaya
Ratu ing
Pancawati
20
Prabu
Sugriwa
Ratu ing
Guwakiskendra
21
Prabu
Palgunadi
Ratu ing
Paranggelung
22
Prabu
Somali
Ratu ing
Palebur Gangsa
23
Prabu
Suteja
Ratu ing
Trajutrisna
24
Prabu
Niwatakawaca
Ratu ing
Ima Imantaka
25
Prabu
Danaraja
Ratu ing
Lokapala
26
Prabu
Dewa Srani
Ratu ing
Rancang Kencana
27
Prabu
Jungkung Mardeya
Ratu ing
Paranggubarja

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Jenenge Pandhita Lan Pertapane Ing Wayang Purwa

Jenenge Pandhita Lan Pertapane Ing Wayang Purwa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Jenenge Pandhita Lan Pertapane Ing Wayang Purwa

1
Begawan
Abiyasa
Pertapane ing
Sapta arga
2
Begawan
Mintaraga
Pertapane ing
Indrakila
3
Begawan
Anoman
Pertapane ing
Kendhalisada
4
Begawan
Padmanaba
Pertapane ing
Argosonya
5
Begawan
Ciptahening
Pertapane ing
Mintaraga
6
Begawan
Sidikwasana
Pertapane ing
Andongsumawi
7
Pandhita
Durna
Pertapane ing
Sokolima
8
Resi
Bisma
Pertapane ing
Talkandha
9
Resi
Palasara
Pertapane ing
Ukir Ratawu
10
Resi
Subali
Pertapane ing
Guwakiskendra
11
Resi
Jambawan
Pertapane ing
Gandamadana
12
Resi
Seta
Pertapane ing
Selaprawata

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Paramasatra Ing Basa Jawa

Paramasatra Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Paramasatra Ing Basa Jawa
Ukara didhapuk saka tembung. Tembung dumadi saka wanda, lan wanda dumadi saka aksara.
Pamilihan Tembung
Tembung bisa diudhal manut wandane lan kudu adhedhasar tembung linggane ( menawa tembung andhahan )
Tuladha :
1.  gambar     = gam-bar
2.  gambaran = gam-bar-an
3.  keturon     = ke-tu-ru-an

Jenise  tembung jawa:

A)      Tembunglingga (kata asal) :

          B. 1.  Ater-ater (=awalan)
          B. 2.  Panambangan (akhiran)
          B.3.   Seselan (sisipan)

         C. 1.     Tembungdwilingga
         C. 2      Tembungdwipurwa
         C. 3      Tembungdwiwasana

E.       Tembungtanduk

F.       TembungTanggap

G.      Ayahane Tembung

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Silah-silahing Ukara Ing Basa Jawa

Silah-silahing Ukara Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Silah-silahing Ukara Ing Basa Jawa

Silah-silahing ukara sing perlu di weruhi ana 6 warna, yaiku :

1.   Ukara Kandha ( Kalimat Langsung )
Yaiku ukara sing ngandhaake omongan liyan kanthi persis.
Contone :
  • Bapak ngendika, “Sesuk aku menyang Jogja”.
  • “Kowe kudu sing sregep ngaji” dhawuhe ibu.


2.  Ukara  Crita ( Kalimat Tak Langsung )
Yaiku ukara sing nyritakke omongan liyan mung sarine / Ringase bae.
Contone :
  • Tini takon, kena apa aku wingi ora mlebu sekolah.
  • Ngendikane guru, yen sregep sinau mesthi pinter.


3.  Ukara Tindak / Tanduk ( Kalimat Aktif )
Yaiku ukara sing jejere nindakake pagawean.
Contone :
  • Ibu mundhut jajan kanggo tukang.
  • Rudi ngunduh jambu.


4.  Ukara Tanggap ( Kalimat Pasif )
Yaiku ukara sing jejere dikenani pagawean.
Contone :
  • Sarunge di krikiti tikus.
  • Jajane dirubung semut.


5.  Ukara Pakon ( Kalimat Perintah )
Contone :
  • Jupukna tasku ing dhuwur kursi kuwi.
  • Balekna buku iki menyang omahe budi.


6.  Ukara Panjaluk ( Kalimat Permohonan )
Contone :
  • Coba kowe mreneya dak kandhani.
  • Tulung aku penekna blimbing kuwi.


Katrangan :
Ukara kandha bisa didadekake ukara crita, lan ukara crita uga bisa didadekake ukara kandha.
Miturut medharake gagasan, ukara bisa di perang dadi 2 warna :

1.   Ukara lamba ( Kalimat Tunggal )
Yaiku ukara sing medharake gagasab mung siji.
Tuladha :
  • Adhik tuku buku.
  • Tono nunggang kebo


2.   Ukara Camboran ( Kalimat Majemuk )
Yaiku ukara sing medharake gagasan luwih saka siji. Ukara camboran iku rangkepane ukara lamba.
Tuladha :
  • Didi cethil nanging mbak yuni loma.
  • Danu munggah kelas amarga sregep anggone sinau.



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

04/02/2014

04/02/2014

Silah-silahing Tembung ( Jenis Kata ) Ing Basa Jawa

Silah-silahing Tembung ( Jenis Kata ) Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Silah-silahing Tembung ( Jenis Kata ) Ing Basa Jawa
Miturut golonganing tembung ana 10 warna :

1.   Tembung Aran ( Kata Benda )
Contone : Meja, kursi, lemari, radio lsp.

2.  Tembung Kriya ( Kata kerja )
Contone : nulis, maca, nyapu, mangan, ngombe, lsp.

3.  Tembung ganti ( Kata ganti )
Contone : aku, kowe, ku, dheweke, lsp.

4. Tembung wilangan ( Kata bilangan )
Contone : telu, setengah, siji, akeh, lsp.

5.  Tembung sipat / kahanan ( Kata sifat )
Contone : bagus, susah, apik, seneng, lsp.

6. Tembung Katrangan ( Kata keterangan )
Contone : Tengah, kene, ndhuwur, wetan, lsp.

7.  Tembung seru / Pangguwuh ( Kata seru )
Contone : Wah, aduh, tulung, eh, lsp.

8.  Tembung Sandhangan ( Kata sandang )
Contone : Sang, Hyang, Raden, Kyai, lsp.

9. Tembung panyambung ( Kata sambung )
Contone : Sarta, lan, wusana, mulane, lsp.

10.  Tembung Pangarep ( Kata depan )

Contone : ing, saka, sing, menyang, lsp.

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Ayahane Tembung Ing Basa Jawa

Ayahane Tembung Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Ayahane Tembung
Ayahane tembung utawa lungguhing tembung ing basa Indonesia diarani “jabatan kalimat”. Ngudhal ukara manut ayahane tembung ateges nggoleki parangane ukara sing diarani jejer, wasesa, lesan lan katrangan ( Ind: subyek, predikat, obyek dan keterangan).

Tuladha :

Dodi tuku sepatu esok mau.
Dodi        = jejer
Tuku        = wasesa
Sepatu     = lesan
Esok mau = katrangan

Warna-warnane katrangan yaiku :
  1. Katrangan wayah         : esok, sore, saiki, bengi, lsp.
  2. Katrangan cacah          : lima, sethithik, akeh, arang, lsp.
  3. Katrangan papan / panggonan : ing dhuwur kursi, ing lapangan, lsp.
  4. Katrangan ukur            : abot, gedhe, cedhak, dawa, lsp.
  5. Katrangan sebab          : jalaran lunga, amarga lara, amarga isih cilik, lsp.
  6. Katrangan maksud / ancas : supaya resik, supaya padhang, kareben waras, lsp.
  7. Katrangan kahanan       : reged, kasar, lurus, resik, lsp.


Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tembung Tanggap Ing Basa Jawa

Tembung Tanggap Ing Basa Jawa





Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini


Tembung Tanggap
Tembung tanggap yaiku tembung lingga sing oleh ater-ater tripurasa ( ka, dak, di) lan seselan –in. Tembung tanggap bisa kaperang dadi patang warna :

a) Tanggap tripurasa
     yaiku tembung lingga sing oleh ater-ater tripurasa
     Tuladha : kojupuk, dakpangan, dibalangi

b)  Tanggap na
     yaiku tembung lingga sing oleh seselan –in
     Tuladha : Sinengkakake, tinulis, tinubruk, tinemu

c)  Tanggap tarung
     yaiku tembung dwilingga sing oleh seselan –in tripurasa
     Tuladha : sera-sinerat, cokot-cinokot, sawang-sinawang, tulung-tinulung

d)  Tanggap ka
     yaiku tembung lingga sing oleh ater-ater ka-kanthi teges dijarak

     Tuladha : kaobong, kapangan, kagendhong, katulis

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tembung Tanduk Ing Basa Jawa

Tembung Tanduk Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tembung tanduk
Tembung tanduk yaiku tembung lingga sing oleh ater-ater hanuswara (m, n, ny). Tembung tanduk bisa kaperang dadi telu warna, yaiku :

a)    Tembung tanduk kriya wantah
       Tembung tanduk kriya wantah yaiku tembung sing ora oleh panambang
       Tuladha : maju, ndheleh, ngadeg, nyapu

b)   Tembung tanduk i-kriya
      Tembung tanduk i-kriya yaiku tembung tanduk sing oleh panambang i
      Tuladha : menthungi, nglabui, nulungi, nyaponi

c)   Tembung tanduk ke-kriya
      Tembung tanduk ke-kriya yaiku tembung tanduk sing oleh panambang ke utawa ake
      Tuladha : Ndhuduhake, nyelehake, mbalangake, ngalungake

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tembung Camboran (kata majemuk) Ing Basa Jawa

Tembung Camboran (kata majemuk) Ing Basa Jawa



Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Tembung camboran (kata majemuk)
Tembung camboran (kata majemuk) yaiku tembung loro utawa luwih sing dirangkep dadi siji, miturut tegese tembung camboran bisa kaperang dadi loro yaiku :

a)  Camboran Tunggal
     Nagasari, Semarmendem, Ulerkembang, Daramuluk

b)  Camboran wudhar

     Gedhecilik, Meja tullis, Gedhang goreng, larabrantha

Lihat  Pepak Basa Jawa selengkapnya di sini

Entri Populer

Kartun

 
© Copyright 2012 : Media Belajarku
Template by : Blogger Templates | ZonaBlogger.com | Didukung Oleh : Blogger.com