Ads 468 x 60

Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

30/07/2013

30/07/2013

Berwisata di Gunung Bromo Jawa Timur


Wisata Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta yaitu : Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu letakknya berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Saat ini gunung bromo menjadi tempat wisata yang terfavorit di Jawa Timur, apakah anda sudah berkunjung kesana...? jika anda jenuh dan bosan dengan suasana diwilayah anda yang itu-itu saja tidak ada salahnya anda mencoba berwisata digunung Bromo, mencari pemandangan baru siapa tau dapat inspirasi... he hw.

Ngomong ngomong soal wisata pasti tidak lepas dari biaya,,dan tentunya mencari sebuah Agen Tour dan Travel yang professional Paket Wisata Bromo untuk itu saya merekomendasikan di Gunung Bromo Servis yang sudah tidak bisa diragukan lagi yaitu : www.indojavatours.com
Kunjungi Indojavatours Bromo Tour Service

16/09/2012

16/09/2012

Taman Kyai Langgeng Magelang


Taman Kyai Langgeng Magelang



Taman Kyai Langgeng Magelang - terletak di jalan Cempaka, hanya 1 Km dari pusat kota Magelang. Berwisata ke taman ini merupakan suatu keasyikan tersendiri. Selain taman yang ditata secara rapi, ternyata banyak sekali tawaran kenikmatan dengan keunikan-keunikan yang dimiliki dan fasilitas-fasilitas lain tersedia di dalamnya. Suatu pesona panorama alam menakjubkan yang dapat mengisi "kekosongan jiwa" para pengunjungnya secara sempurna.
Kyai Langgeng adalah sebuah nama yang diambil dari nama salah seorang pejuang di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro, satu di antara pahlawan-pahlawan Indonesia yang berjuang dengan gagah berani merebut kemerdekaan melawan penjajah Belanda selama perang Diponegoro (1825 - 1830). Dasar dijadikannya sebuah Taman dengan menggunakan nama Kyai Langgeng karena almarhum dimakamkan di kawasan ini. Makam tersebut masih ada dan terawat hingga saat ini.

Taman Kyai Langgeng dengan luas 27,5 hektare memiliki ratusan koleksi tanaman langka yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek penelitian antara lain ada Cempaka Ganda (Mycelia campaca), Dewa Daru (Eugenia Sp), Apel Beludru (Diospiros Rabbola), Nagasari (Mesua Ferrea), Matoa (Pometia Pinata Ireigfost), Ruser (Arthocarpus Sp), Lobi-Lobi (Flacouritia Inermis Roxb) dan masih banyak lagi.

Taman satwa pun tersaji, ada buaya, owa, itik, burung, berbagai jenis ikan dan sebagainya. Rencananya, pada tahun 2012 ini akan dibangun taman reptil yang menampilkan sekitar 70 koleksi reptil eksotis kepada pengunjung Taman Kyai Langgeng.

Fasilitas-fasiltias penunjang yang dimiliki Taman Kyai Langgeng adalah sebuah kolam renang yang dipisah menjadi dua dengan pembatas terapung. Masing-masing untuk anak-anak dengan kedalaman 1 meter dan untuk orang dewasa sedalam 2 meter. Kolam renang ini dilengkapi dengan menara peluncur bergelombang dan tentunya tempat bilas serta ganti.

Di samping itu, pesona lain yang tesedia adalah koleksi patung-patung dinosaurus, gelanggang pemancingan, taman lalu lintas, rumah aquarium, rumah apung, panggung terbuka, arena untuk bermaingokart, sungai untuk arung jeram, bianglala, becak mini, kereta air, jet coaster, kereta mini, komidi putar, anjungan dirgantara, flying fox dll.



Taman Kyai Langgeng
Jl. Cempaka No. 6, Kota Magelang.
Telp. (0293) 364142



14/09/2012

14/09/2012

Pura Paling Tua (Pura Lempuyang Luhur)


Pura Paling Tua (Pura Lempuyang Luhur)



Pura Hindu di Bali merupakan manifestasi dari penyembahan terhadap para dewa-dewi yang dipercaya bisa mendatangkan hal positif bagi manusia. Peran dan fungsi sebuah pura di Bali menjadi berganda, yakni sebagai tempat untuk memuja, bersembahyang sekaligus juga sebagai tempat berwisata. Salah satunya yakni Pura Lempuyang yang berada di belahan timur Pulau Bali.

Tiga Mandala

Pura Lempuyang merupakan pura yang paling tua di Bali. Dalam konsepsi Dewata Nawa Sanga atau Sembilan Dewa penguasa sembilan mata angin, pura ini merupakan Sthana Dewa Iswara. Pura Lempuyang sendiri terbagi dalam tiga mandala yaitu Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur. Berdasarkan lontar Markandeya Purana, Pura Lempuyang didirikan oleh Rsi Markandeya sekitar abad ke-8 M. Pada saat itu Rsi Markandeya membuat sebuah pesantrian untuk keperluan persembahyangan sekaligus membabarkan ajaran Hindu.

Pesantrian tersebut diperkirakan berada pada lokasi Pura Lempuyang Madya saat ini, di mana di sini beliau dikenal sebagai Bhatara Gnijaya.
Aspek kesejarahan pura ini menjadi sukar diungkap karena data-data yang kuat sukar untuk ditemukan. Namun sejauh ini ada dua hal yang penting menyangkut Pura Lempuyang ini yakni Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Arti kata “Lempuyang” sendiri dalam terminologi Jawa berarti Gunung Gamongan. Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Pura Lempuyang merupakan salah satu dari tiga pura besar selain Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.

Pantangan

Untuk memasuki pura ini ada sejumlah pantangan yang tak boleh dilanggar  karena akan berakibat buruk atau fatal. Pantangan yang dimaksud adalah menghindarkan dari perkataan buruk sebagai laiknya akan mendatangi tempat suci dan disucikan. Demikian juga pengunjung pura ini harus membersihkan segenap hatinya.

Lokasi

Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis. Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari “Pura-Pura” delapan penjuru angin di Pulau Bali.


Sejarah

Sangat Sulit untuk mengungkapkan sejarah Pura Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem itu secara jelas, oleh karena data-data yang kuat sukar di dapatkan. Kesulitan lain lagi ialah sampai kini belum dijumpai “Purana” tentang Pura itu yang diharapkan dapat memberikan keterangan secara jelas. Sementara itu baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad” dan keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul.

1. Prasasti Sading C

Naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut ” Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau  Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.”

2. Prasasti Kutarakanda DewaPurana Bangsul

Didalam Lontar Kutarakanda DewaPurana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut ” Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana”

Dari kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil yaitu : Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti “Gamongan” gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura.

 Galeri Foto : 








Unik : Masjid yang Didirikan oleh Mahluk Gaib


Unik : Masjid yang Didirikan oleh Mahluk Gaib


Dibangunkan sekitar abad ke-12 masihi, Masjid Nando yang terletak di Kampung Nando, Mali, Afrika Barat, hingga kini masih menjadi misteri terutamanya dari segi struktur dan reka bentuk bangunannya. Kewujudan Masjid Nando adalah hasil dari pengaruh Islam ke Afrika Barat yang mula-mula tersebar pada abad IX Masehi. Pada waktu itu, Islam dibawa oleh para pedagang Muslim dari suku Tuareg dan Berber. Kedua suku ini merupakan suku nomad yang suka mengembara di gurun sahara selatan dan utara.

Bangunan Masjid Nando dikategorikan Unik, tidak ada marmar atau kubah sebagaimana masjid-masjid lain pada umumnya. Seluruh bangunan hanya dilapisi lumpur, termasuk lantai dalam masjid. Bahkan bagian tepi lantai, tetap dibiarkan lebih tinggi dari bangunan yang lain dan menyerupai pinggiran benteng dengan reka bentuk lama. Meski demikian, pada setiap sisi dalam bangunan masjid dihiasi dengan tulisan kaligrafi yang juga dibuat dari lumpur.


Menurut mitos masyarakat setempat, Masjid Nando tidak dibangunkan oleh manusia, akan tetapi oleh makhluk halus yang berbadan besar. Keyakinan ini diperkuat jika anda melihat struktur bangunan, bahan yang digunakan untuk membina masjid , serta adanya bekas tapak kaki besar pada salah satu sisi masjid.


Gunung Everest


Gunung Everest 


Gunung Everest adalah gunung tertinggi di dunia. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 8,9 km dari permukaan air laut. Gunung Everest adalah salah satu dari beberapa gunung yang membentuk pegunungan Himalaya, yang menjadi perbatasan antara Tibet dan Nepal, di sebelah utara India.Beberapa ahli tidak memiliki kesepakatan yang sama tentang tinggi Gunung Everest. Penelitian oleh pemerintah Inggris yang dilakukan pada pertengahan tahun 1800-an mencatat ketinggian gunung ini 8.840 meter. Penelitian pemerintah India pada tahun 1954, mencatat ketinggian yang resmi saat ini adalah 8.848 meter, namun secara luas oleh masyarakat ketinggian Gunung Everest tercatat 8.882 meter.

Nama gunung ini diambil dari nama seorang peneliti berkebangsaan Inggris Sir George Everest yang hidup pada tahun 1790 – 1866. Penduduk Tibet menyebut gunung ini dengan sebutan Gunung Chomolungma yang berarti “Dewi Bumi”, sedangkan orang Nepal menyebutnya dengan nama Gunung Sagarmatha.
Banyak pendaki yang telah mencoba untuk menaklukkan Gunung Everest ini, dimulai sejak pertama kali orang Inggris melihatnya pada tahun 1953. Kombinasi antara longsoran salju, retakan tanah yang tertutup salju, angin kencang ditambah dengan kecuraman dan udara yang sangat tipis, semakin mempersulit para pendaki.

edmund hillary dantenzing norgay (kanan)

Pada tanggal 29 mei 1953, Sir Edmund Hillary dari New Zealand dan Tenzing Norgay seorang penduduk asli Nepal, menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak. Mereka anggota ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Sir John Hunt. Tim ini berangkat dari Kathmandu, Nepal pada tanggal 10 maret 1953, dan melakukan pendakian dari sisi selatan yang dikenal sebagai lereng yang tidak mungkin dapat didaki. Pada setiap pendakian yang berhasil mencapai lereng yang landai mereka membuat beberapa buah pos-pos perkemahan, masing-masing pos dijaga oleh beberapa orang anggota, sehingga makin mendekati puncak anggotanya semakin berkurang. 

Pos perkemahan terakhir hanya berupa sebuah tenda kecil yang berada pada ketinggian 8.504 meter, didirikan oleh Hillary dan Tenzing Norgay, yang berhasil mencapai puncak. Pada tahun 1956 sebuah tim ekspedisi dari Swis melakukan pendakian dua kali. Tim ini juga menjadi kelompok pertama yang berhasil mendaki Gunung Lhotse, puncak gunung tertinggi ke empat di dunia dan merupakan salah satu puncak yang membentuk kelompok gunung tinggi Everest.

Pada tahun 1963, Norman G. Dyhrenfurth memimpin tim ekspedisi dari Amerika Serikat yang juga mendaki Gunung Everest. Pada tanggal 1 mei 1963, James W. Whittaker yang ditemani seorang pemandu dari Nepal Nawang Gombu, menjadi orang Amerika pertama yang berhasil mencapai puncak. Ia mendaki puncak dari sisi selatan. Thomas F. Hornbein dan William F. Unsoeld anggota kelompok ekspedisi yang sama menjadi orang pertama yang mendaki dari sisi barat yang sangat sulit, dan berhasil mencapai puncak pada tanggal 22 mei 1963.

Pada tanggal 24 September 1975 Dougal Haston dan Doug Scott menjadi pendaki pertama yang berhasil mencapai puncak melalui sisi barat daya. Mereka adalah anggota kelompok ekspedisi dari Inggris. Pada tanggal 10 Mei 1980, dua orang anggota ekspedisi Jepang, Takashi Ozaki dan Tsuneo Shigehiro, menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak melalui sisi utara.

Pada tanggal 5 mei 1988, dua buah tim ekspedisi berhasil mencapai puncak dari dua sisi yang berbeda. Tim pendaki ini terdiri dari beberapa anggota dari Cina, Jepang dan Nepal. Salah satu kelompok yang beranggotakan tiga orang berangkat dari Nepal dan mendaki dari sisi selatan. Kelompok yang lain yang berjumlah delapan orang memulai pendakian dari sisi Utara dari Tibet.
Beberapa penduduk asli mengaku adanya mahkluk yang mereka sebut Yeti atau Manusia Salju yang buruk, yang hidup disekitar Gunung Everest.



Sumber : 
catros.wordpress.com

08/09/2012

08/09/2012

Sejarah Candi Pawon ( Wisata Budaya )


 Sejarah Candi Pawon 
( Wisata Budaya )




 Sejarah Candi Pawon  - Candi Pawon terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Candi yang mempunyai nama lain Candi Brajanalan ini berada di antara candi Mendut dan candi Borobudur, tepat berjarak 1750 meter dari candi Borobudur dan 1150 m dari Candi Mendut. Letak Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur yang berada pada satu garis lurus mendasari dugaan bahwa ketiga candi Buddha tersebut mempunyai kaitan yang erat. 

Selain letaknya, kemiripan motif pahatan di ketiga candi tersebut juga mendasari adanya keterkaitan di antara ketiganya. Poerbatjaraka, bahkan berpendapat bahwa candi Pawon merupakan upa angga (bagian dari) Candi Barabudhur. Menurut Casparis, Candi Pawon merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra ( 782 - 812 M ), ayah Raja Samarrattungga dari Dinasti Syailendra. 

Nama "Pawon" sendiri, menurut sebagian orang, berasal dari kata pawuan  yang berarti tempat menyimpan awu (abu). Dalam ruangan di tubuh Candi Pawon, diperkirakan semula terdapat Arca Bodhhisatwa, sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Indra yang dianggap telah mencapai tataran Bodhisattva, maka dalam candi ditempatkan arca Bodhisatwva. Dalam Prasasti Karang Tengah disebutkan bahwa arca tersebut mengeluarkan wajra (sinar). Pernyataan tersebut menimbulkan dugaan bahwa arca Bodhisattwa tersebut dibuat dari perunggu.

Batur candi setinggi sekitar 1,5 m berdenah dasar persegi empat, namun tepinya dibuat berliku-liku membentuk 20 sudut. Dinding batur dihiasi pahatan dengan berbagai motif, seperti bunga dan sulur-suluran. Berbeda dengan candi Buddha pada umumnya, bentuk tubuh Candi Pawon ramping seperti candi Hindu.

Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi pawon terletak di sisi barat. Di atas ambang pintu terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah.Tangga menuju selasar dilengkapi dengan pipi tangga dengan pahatan pada dinding luarnya. Hiasan kepala naga di pangkal pipi tangga sudah rusak. Ruangan dalam tubuh candi saat ini berada dalam keadaan kosong, namun pada lantai terlihat bekas yang menunjukkan bahwa tadinya terdapat arca di tempat tersebut.
Pada dinding bagian depan  candi, di sebelah utara dan selatan pintu masuk, terdapat relung yang berisi pahatan yang menggambarkan Kuwera (Dewa Kekayaan) dalam posisi berdiri. 

Pahatan yang terdapat di selatan pintu sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi wujud aslinya. Pahatan yang di utara pintu relatif masih utuh, hanya bagian kepala saja yang sudah hancur.
Pada dinding utara dan selatan candi terdapat relief yang sama, yaitu yang menggambarkan Kinara dan Kinari, sepasang burung berkepala manusia, berdiri mengapit pohon kalpataru yang tumbuh dalam sebuah jambangan. Di sekeliling pohon terletak beberapa pundi-pundi uang. Di langit tampak sepasang manusia yang sedang terbang. Di bagian atas dinding terdapat sepasang jendela kecil yang berfungsi sebagai ventilasi. Di antara kedua lubang ventilasi tersebut terdapat pahatan kumuda. Atap candi berbentuk persegi bersusun dengan hiasan beberapa dagoba (kubah) kecil di masing-masing sisinya. Puncak atap dihiasi dengan sebuah dagoba yang lebih besar

Candi Pawon juga merupakan sebuah candi Budha. Saat diteliti secara lengkap pada reliefnya, ternyata merupakan permulaan relief Candi Borobudur. Banyak orang mengira Candi Pawon merupakan sebuah makam, namun setelah diteliti ternyata merupakan tempat untuk menyimpan senjata Raja Indera yang bernama Vajranala. Candi ini terbuat dari batu gunung berapi. Ditinjau dari seni bangunannya merupakan gabungan seni bangunan Hindu Jawa kuno dan India. Candi Pawon terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan Candi Borobudur dan Candi Mendut.

Kemungkinan candi ini dibangun untuk kubera. Candi ini berada di atas teras dan tangga yang agak lebar. Semua bagian-bagiannya dihiasi dengan stupa (dagoba) dan dinding-dinding luarnya dengan gambar-gambar simbolis.

Galery Candi Pawon : 




Sumber : id.wikipedia.org

Tag : Sejarah Candi Pawon, Candi Pawon, Letak Candi Pawon, Prasati Karang Tengah, Candi pawon, candi Mendut, Candi Borobudur

05/09/2012

05/09/2012

Candi Gedong Songo Ungaran Ambarawa



Candi Gedong Songo Ungaran Ambarawa


  • Lokasi : Dusun Darum, Desa Candi, Kec. Bandungan
  • Jarak tempuh :
    • Gedong Songo - Kota Ungaran : 19 km
    • Gedong Songo - Kota Ambarawa : 13 km
    • Gedong Songo - Kota Semarang : 30 km
  • Daya Tarik :
    • Wisata Sejarah: Salah satu penginggalan Hindu Sanjaya pada abad IX (tahun 927 M)
    • Wisata Alam: Panorama alam pegunungan dengan hawa yang sejuk, dan terdapat pemandian air panas.
    • Area perkemahan, Panjat tebing Alam
  • Daya Dukung Wisata :
    • Hotel (dengan paket murah)
    • Jasa Kuda sebagai transportasi
  • Deskripsi :
    Candi Gedongsongo merupakan sebuah komplek candi hindu yang berada di kaki Gunun Ungaran, tepatnya di dusun darum, Desa Candi, Kecamata Bandungan Kabupaten Semarang yang berjarak 9 km dari kecamatan Ambarawa dan 12 km dari kota Ungaran. Ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles dari inggris pada tahun 1804. Candi Gedongsong termasuk salah satu peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Sanjaya pada abad IX (tahun 921 M). Candi ini sebetulnya terdiri dari 9 bangunan namun saat ini hanya tinggal 4 bangunan yang masih utuh sementara 5 lainnya hanya tinggal puing. Candi Gedong songo selain sebagai tempat wisata budaya, juga merupakan obyek wisata alam dengan hawa yang sejuk dan pemandangan alamnya yang indah dimana pengunjung bisa melihat indahnya jajaran gunung berapi mulai dari Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing hal ini bisa didapati jika cuaca cerah dan tidak ada mendung, juga hamparan membiru Rawa Pening bisa terlihat dari lokasi ini. Obyek Wisata ini dilengkapi pula dengan pemandian air panas, area perkemahan, wisata berkuda, Wahana panjat tebing alam dan saat ini dilengkapi dengan cottage (Vanna Prasta) di area Hutan Pinus diatas candi 1.

  

  
  

Jajaran Candi Gedong songo dilihat dari berbagai sudut.

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis turun dari atas gunung sering muncul mengakibatkan mata tidak dapat memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin.


Untuk menuju ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik. Terletak diketinggian 1.208 mdpl. Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran. Di dalam candi 1 ini terdapat Yoni namun tanpa Lingga.




 Candi  Gedong II


Terletak diketinggian 1.274 mdpl. Terdapat 2 candi yaitu candi induk (menghadap barat) dan dihadapannya terdapat sebuah candi Perwara (menghadap timur) yang telah runtuh. Atapnya tersusun atas 4 tingkat dengan stupa dan hiasan Antefix. Artefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila berada di dalam segitiga berukiran pot dengan salur-salur daunnya.

 Candi Gedong III


Terletak pada ketinggian 1.297 mpdl. Candi ini memiliki 3 buah bangunan terdiri dari satu candi induk dan dua candi pendamping dengan formasi membentuk huruf L. tepat di muka candi induk yang menghadap kea rah barat, ada bangunan yang dulu dipergunakan sebagai tempat para pendeta beristirahat.

Disela-sela antara Candi Gedong III dengan Gedong IV terdapat sebuah kepunden gunung sebagai sumber air panas dengan kandungan belerang cukup tinggi. Para wisatawan dapat mandi dan menghangatkan tubuh disebuah pemandian yang dibangun di dekat kepunden tersebut. Bau belerangnya cukup kuat dan kepulan asapnya lumayan tebal ketika mendekati sumber air panas tersebut.



Terletak pada ketinggian 1.295 mpdl. Candi ini mempunyai keunikan tersendiri . Ada 8 candi yang mengelilingi candi utama.Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang dan tiga buah di depan candi utama.

Candi Gedong V

Terletak pada ketinggian 1.308 mpdl., terdapat dua halaman yang tidak sama tingginya, di halaman pertama terdapat candi induk yang diapit dua buah reruntuhan Candi Perwara. Sedangkan pada halaman kedua terdapat dua buah reruntuhan Candi Perwara bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat.


Karena keindahannya Candi Gedong Songo ini sering menjadi tempat yang indah untuk foto foto Pre Wedding.


Tiket Masuk: Rp 6.000/orang di hari biasa, Rp 7.500/orang pada hari Libur dan Rp 50.000/orang(Wisatawan Asing). Anda bisa memanfaatkan jasa transportasi kuda untuk berwisata mengelilingi obyek wisata Candi Gedongsongo.


Tarif Jasa Naik Kuda Candi Gedong Songo
Wisata Desa Rp 25.000 (Wisman Rp 35.000)
- Ke Air Panas Rp 40.000 (Wisman Rp 60.000)
- Ke Candi II Rp 30.000 (Wisman Rp 40.000)
- Paket candi Songo Rp 50.000 (Wisman Rp 70.000) 
Untuk menuju Candi Gedong Songo diperlukan perjalanan sekitar 20 menit dari Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam. Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.
- Ungaran – Gedong Songo : 19 km
- Ambarawa – Gedong Songo : 13 km
- Semarang – Gedong Songo : 30 km







20/08/2012

20/08/2012

Sejarah Temanggung


Sejarah Temanggung

Sejarah Temanggung
Sejarah Temanggung selalu dikaitkan dengan raja Mataram Kuno yang bernama Rakai Pikatan. Nama Pikatan sendiri dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah yang berada pada sumber mata air di desa Mudal Kecamatan Temanggung. Disini terdapat peninggalan berupa reruntuhan batu-bebatuan kuno yang diyakini petilasan raja Rakai Pikatan. Sejarah Temanggung mulai tercatat pada Prasasti Wanua Tengah III Tahun 908 Masehi yang ditemukan penduduk dusun Dunglo Desa Gandulan Kecamatan Kaloran Temanggung pada bulan November 1983. Prasasti itu menggambarkan bahwa Temanggung semula berupa wilayah kademangan yang gemah ripah loh jinawi dimana salah satu wilayahnya yaitu Pikatan. Disini didirikan Bihara agama Hindu oleh adik raja Mataram Kuno Rahyangta I Hara, sedang rajanya adalah Rahyangta Rimdang (Raja Sanjaya) yang naik tahta pada tahun 717 M (Prasasti Mantyasih). Oleh pewaris tahta yaitu Rake Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M, Bihara Pikatan memperoleh bengkok di Sawah Sima. Jika dikaitkan dengan prasasti Gondosuli ada gambaran jelas bahwa dari Kecamatan Temanggung memanjang ke barat sampai kecamatan Bulu dan seterusnya adalah adalah wilayah yang subur dan tenteram (ditandai tempat Bihara Pikatan).
Pengganti raja Sanjaya adalah Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 27 November 746 M dan bertahta selama kurang lebih 38 tahun. Dalam legenda Angling Dharma, keratin diperkirakan berada di daerah Kedu (Desa Bojonegoro). Di desa ini ditemukan peninggalan berupa reruntuhan. Di wilayah Kedu juga ditemukan desa Kademangan. Pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan yang naik tahta pada tanggal 1 april 784 dan berakhir pada tanggal 28 Maret 803. Rakai Panunggalan bertahta di Panaraban yang sekarang merupakan wilayah Parakan . Disini ditemukan juga kademangan dan abu jenasah di Pakurejo daerah Bulu. Selanjutnya Rakai Panunggalan digantikan oleh Rakai Warak yang diperkirakan tinggal di Tembarak. Disini ditemukan reruntuhan di sekitar Masjid Menggoro dan reruntuhan Candi dan juga terdapat Desa Kademangan. Pengganti Rakai warak adalah Rakai Garung yang bertahta pada tanggal 24 januari 828 sampai dengan 22 Pebruari 847. Raja ini ahli dalam bangunan candid an ilmu falak (perbintangan). Dia membuat pranata mangsa yang sampai sekarang masih digunakan. Karena kepandaiannya sehingga Raja Sriwijaya ingin menggunakannya untuk membuat candi. Namun Rakai Garung tidak mau walau diancam. Kemudian Rakai Garung diganti Rakai Pikatan yang bermukim di Temanggung. Disini ditemukan Prasasti Tlasri dan Wanua Tengah III. Disamping itu banyak reruntuhan benda kuno seperti Lumpang Joni dan arca-arca yang tersebar di daerah Temanggung. Disini pun terdapat desa Demangan.
Dari buku sejarah karangan I Wayan badrika disebutkan bahwa Rakai Pikatan selaku raja Mataram Kuno berkeinginan menguasai wilayah Jawa Tengah. Namun untuk merebut kekuasaan dari raja Bala Putra Dewa selaku penguasa kerajaan Syailendra tidak berani. Maka untuk mencapai maksud tersebut Rakai Pikatan membuat strategi dengan mengawini Dyah Pramudha Wardani kakak raja Bala Putra Dewa dengan tujuan untuk memiliki pengaruh kuat di kerajaan Syailendra. Selain itu Rakai Pikatan juga menghimpun kekuatan yang ada di wilayahnya baik para prajurit dan senapati serta menghimpun biaya yang berasal dari upeti para demang. Pada saat itu yang diberi kepercayaan untuk mengumpulkan upeti adalah Demang Gong yang paling luas wilayahnya. Rakai Pikatan menghimpun bala tentara dan berangkat ke kerajaan syailendra pada tanggal 27 Mei 855 Masehi untuk melakukan penyerangan. Dalam penyerangan ini Rakai Pikatan dibantu Kayu Wangi dan menyerahkan wilayah kerajaan kepada orang kepercayaan yang berpangkat demang. Dari nama demang dan wilayah kademangan kemudian muncul nama Ndemanggung yang akhirnya berubah menjadi nama Temanggung.

Catatan sejarah Temanggung berasal dari :
  1. Prasasti Wanua Tengah III, Berkala arkeologi tahun 1994 halaman 87 bahwa Rakai Pikatan dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 27 Mei 855 M.
  2. Prasasti Siwagrha terjemahan Casparis (1956 - 288), pada tahun 856 M Rakai Pikatan mengundurkan diri.
  3. Prasasti Nalanda tahun 860 (Casparis 1956, 289 - 294), Balaputra dewa dikalahkan perang oleh Rakai Pikatan dan Kayu Wangi.
  4. Prasasti Wanua Tengah III, Berkala Aekeologi Tahun 1994 halaman 89, Rakai Kayu Wangi naik tahta tanggal 27 Mei 855 M.
  5. Dalam buku karangan I Wayan Badrika halaman 154, Pramudya Wardani kawin dengan Rakai Pikatan dan naik tahta tahun 856 M. Balaputra Dewa dikalahkan oleh Pramudha wardani dibantu Rakai Pikatan (Prasasti Ratu Boko) tahun 856 M.
Catatan diatas dapat disimpulkan bahwa Rakai Pikatan mengangkat putranya Kayu Wangi. Selanjutnya mengundurkan diri dan meninggalkan Mataram untuk kawin dengan Pramudha Wardani. Dalam peperangan melawan Balaputra Dewa, Rakai Pikatan dibantu putranya Kayu Wangi.

Riwayat Singkat Hari Jadi Kabupaten Temanggung
Berdasarkan Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda, Nomor 11 Tanggal 7 April 1826, Raden Ngabehi Djojonegoro ditetapkan sebagai Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan, dengan gelar Raden Tumenggung Aria Djojonegoro. Setelah perang Diponegoro berakhir, beliau kemudian memindahkan Ibu Kota ke Kabupaten Temanggung. Kebijaksanaan pemindahan ini didasarkan pada beberapa hal; Pertama, adanya pandangan masyarakat Jawa kebanyakan pada sat itu, bahwa Ibu Kota yang pernah diserang dan diduduki musuh dianggap telah ternoda dan perlu ditinggalkan. Kedua, Distrik Menoreh sebuah daerah sebagai asal nama Kabupaten Menoreh, sudah sejak lama digabung dengan Kabupaten Magelang, sehingga nama Kabupaten Menoreh sudah tidak tepat lagi. Mengingat hal tersebut, atas dasar usulan Raden Tumenggung Aria Djojonegoro, lewat esiden Kedu kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, maka disetujui dan ditetapkan bahwa nama Kabupaten Menoreh berubah menjadi Kabupaten Temanggung. Persetujuan ini berbentuk Resolusi Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 Tanggal 10 Nopember 1834.
Mempertimbangkan bahwa Hari Jadi Daerah merupakan awal perjalanan sejarah, agar diketahui semua lapisan masyarakat, guna memacu meningkatkan semangat pembangunan dan pengembangan daerah, maka Pemerintah Kabupaten Dati II Temanggung menugaskan kepada DPD II KNPI Kabupaten Temanggung untuk mengadakan pelacakan sejarah dan seminar tentang Hari Jadi Kabupaten Temanggung. Dari hasil seminar tanggal 21 Oktober 1985, yang diikuti oleh Sejarawan, Budayawan dan Tokoh Masyarakat, ABRI, Rokhaniwan, Dinas/Instansi/Lembaga Masyarakat dan lain-lainnya, maka ditetapkan bahwa tanggal 10 Nopember 1834 sebagai Hari Jadi Kabupaten Temanggung.
Review : www.temanggungkab.go.id

19/08/2012

19/08/2012

POTENSI WISATA KABUPATEN TEMANGGUNG

POTENSI WISATA KABUPATEN TEMANGGUNG


POTENSI WISATA KABUPATEN TEMANGGUNG
Potensi wisata Kabupaten Temanggung dapat dikelompokkan dalam menjadi 3 kelompok yaitu Obyek Wisata Alam, Obyek Wisata Buatan dan Obyek Wisata Budaya.

A. OBYEK WISATA ALAM
1. Air Terjun Trocoh ( Surodipo ) di Kecamatan Wonoboyo
Grojogan yang curam dan air yang tak pernah surut dengan pemandangan alam sekitarnya bernuansa pegunungan bisa membuat wisatawan benar benar segar, sejuk dan nyaman. Di kawasan ini ada 5 terjunan air dengan suasana yang berbeda. Terletak di desa Tawangsari 7 km dari Kecamatan Wonoboyo atau 36 km dari Kota Temanggung. Potensi obyek wisata air terjun yang masih perawan dan alami, menjadi saksi bisu kilasan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro ketika membuat strategi gerilya melawan Belanda. Untuk mencapai lokasi ini memang membutuhkan tenaga ekstra sebab harus melewati perbukitan di ladang penduduk. Namun suasana mengesankan dengan hembusan angin bukit. 

2. Air Terjun Lawe di Kecamatan Gemawang

Jatuhnya air dari tebing curam itu bagaikan benang-benang putih yang dalam bahasa jawa disebut ‘Lawe’. ( tali yang seratnya putih ) membuat namanya lebih cocok menjadi Curug Lawe. Di kawasan ini ada buah-buah alam yang bisa disantap apabila datang tepat pada musimnya. Panorama alam sekitar Curug Lawe di desa Muncar kecamatan Gemawang kabupaten Temanggung cukup memikat. Perjalanan menuju lokasi cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung.

3. Goa Lawa di Kecamatan Bejen

Terletak di desa Ngalian Kecamatan Bejen, perbatasan Temanggung – Kendal, pernah dirintis pengembangannya oleh Mahasiswa AKPARI Semarang. Ada tradisi pendukung yakni upacara ‘Lampet Dawuhan’ yaitu serangkaian upacara adat sedekah kali dengan ungkapan do’a agar air yang mengairi sawah penduduk di wilayah tersebut dapat tetap abadi mengalir memenuhi kebutuhan pertanian mereka. Ada keunikan dalam tradisi ini yaitu sesepuh desa menyedot air kali dengan mulut kemudian menyemburkannya di areal persawahansetelah melalui kirap sepanjang 200 meter.

Udara yang sejuk di mata air Kali Progo dan air yang bening higienis membuat wisatawan kerasan ditemani kera kera jinak bersahabat. Ada tradisi Kungkum di pusat mata air ini dan kemudian berdzikir di Makam Ki Nujum Majapahit. Kegiatan Ziarah ini ramai dilakukan pengunjung pada Malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon. Jumprit Terletak di dusun Jumprit desa Tegalrejo kecamatan Ngadirejo 26 km dari Kota Temanggung. Panorama alam yang sejuk di kawasan mata air jumprit dan wana wisata yang dikelola Perhutani menjadikan obyek wisata ini menarik untuk singgah dan membuat tenda tempat istirahat. Obyek wisata spiritual ini erat hubungannya dengan legenda Kyai Nujum Majapahit. Didekat mata air Jumprit terdapat makam Ki Jumprit tempat para peziarah melakukan meditasi dilanjutkan dengan mandi kungkum dan berdzikir. Air Jumprit juga digunakan sebagai Air Berkah untuk upacara Tri Suci Waisyak setiap tahunnya.

5. Rest Area Kledung Pass
Kawasan titik puncak perjalanan Temanggung - Wonosobo dan Dieng dengan pemandangan Panorama Gunung Sumbing dan hamparan tanaman tembakau merupakan kawasan yang sejuk dengan aliran angin lembah yang membuat nuansa menjadi segar. Cocok untuk transit melepas lelah sambil minikmati kopi khas
Temanggung di Trading House Kledung Pass. Di sekitar kawasan ada kebun Strawbery dan pusat pembibitan tanaman kentang unggul sehingga Kledung Pass juga sebagai Agro Wisata.

6. Pendakian Gunung Sumbing
Pendakian Gunung Sumbing merupakan tradisi yang dilakukanpara pecinta alam dan petualang wisata pada “Malem Selikuran” tanggal 20 bulan Sya’ban. Pendakian dilakukan lewat dusun Kacepit, desa Pagergunung Kecamatan Bulu dan akan dipandu oleh Pemandu Wisata Gunung dari desa setempat.

7. Pendakian Gunung Sindoro
Pendakian dilakukan tiap “Malem 1 Sura”yaitu tanggal 30 bulan Zulhijah oleh ribuan pecinta Sindoro Tracking Mounth, lewat desa Katekan Kecamatan Ngadirejo dan juga lewat desa Kledung. Di puncak Sindoro dapat melihat matahari terbit dan apabila mendaki pada siang hari maka akan melihat tenggelamnya matahari serta Danau Ajaib yang disebut sebagai ‘Pasar Setan’. Sebagai Base Camp dan tempat pendaftaran adalah di desa Kledung Kecamatan Kledung. Mereka akan didata identitasnya dan dicek perlengkapannya oleh petugas gabungan dari tim SAR, Polisi, Kelompok Pecinta Alam, Pramuka dan Pemuda Desa, berkaitan dengan upaya pengamanan serta kelengkapan yang harus dibawa saat mendaki. Gunung Sindoro berketinggian 3.151 meter, puncaknya merupakan hamparan pasir bekas magma yang membeku. Dari puncak itulah para pendaki akan menikmati suasana yang indah saat terbitnya matahari pagi pukul 05.00 WIB. Berdiri diatas puncak Sindoro bagaikan berdiri diatas awan, lebih-lebih bila cuaca jernih pendaki dapat merasakan indahnya alam puncak gunung yang ditumbuhi bunga-bunga kering. Begitu indahnya sang Edelweis, namun siapapun tak boleh membawa pulang, cukup bisa dipandang saja dipuncak Sindoro.

8. Hutan Walitis
Pohon Walitis merupakan satu – satunya pohon terbesar di Lereng Gunung Sumbing dan Sindoro yang terletak di desa Jetis Kecamatan selopampang. Tinggi pohon ± 30 meter, lingkar batangnya ± 7,5 meter. Untuk memeluk pohon ini diperlukan enam (6) orang dewasa yang saling bertautan merentangkan kedua tangannya. Legenda masyarakat menyebutkan, Pohon Walitis berasal dari sebuah tongkat Ki Mangkukuhan yang ditancapkan di tanah kemudian ditinggalkan Ki Ageng ke Puncak Sumbing. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam yang indah dan udara pegunungan segar alami. Tidak kalah menariknya disana tumbuh juga rumpun tumbuhan yang bernama hutan Rosomolo yang tidak terbakar kendati di lingkungannya sering terjadi kebakaran hutan.

B. OBYEK WISATA BUATAN

Obyek wisata permainan air tengah menjadi trend wisata saat ini telah hadir di Pikatan Temanggung dan menjai tujuan rekreasi yang menyenangkan. Fasilitas aneka permainan air tersedia didukung sejuknya udara Pikatan. Di kawasan ini terdapat Kolam Renang Standar Nasional, kolam anak-anak, hall tempat bermain, dan juga terdapat situs Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram. Tersedia rumah makan dengan menu ‘Bader Goreng’, Ikan Bakar dan makanan oleh-oleh Gula Kacang maupun pecel mi yang siap santap.

2. Taman Rekreasi Kartini
Pusat hiburan masyarakat terutama pada event Pekan Syawalan dengan suguhan aneka hiburan. Kawasan ini juga sebagai tempat singgah pemakai jasa travel Semarang – Wonosobo – Purwokerto. Gedung Perpustakaan Daerah juga dibangun di kawasan ini sehingga pengunjung disamping menikmati permainan juga bisa bersantai sambil membaca buku di perpustakaan.



3. Monumen Meteorit
Jatuhnya meteor di ladang penduduk desa Wonotirto kecamatan Bulu, tanggal 11 Pebruari 2001 dibarengi suara gemuruh dan ledakan dahsyat, merupakan peristiwa alam yang langka dan menarik untuk diteliti. Untuk itu Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi AKPRIN Yogyakarta melakukan penelitian dan kemudian membangun Monumen Meteorit di lokasi jatuhnya benda angkasa tersebut. Kini Monumen ini menjadi obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi didukung sejuknya suasana alam sekitar berlatar belakang pemandangan Gunung Sumbing berketinggian 3.371 m.

4. Monumen Bambang Sugeng
Bukit kecil di sebelah timur kota Temanggung menjadi saksi perjuangan almarhum Mayjend Bambang Sugeng yang pada waktu perang kemerdekaan memimpin pasukan TNI di daerah Temanggung dan sekitarnya. Di kawasan ini berdiri Monumen Bambang Sugeng dan terdapat batu besar dengan pahatan tulisan huruf kanji berbunyi Wampo Daiwa Daigetzu yang diartikan dalam bahasa Indonesia : Seloeroeh Doenia Sekeloearga. Merupakan peninggalan Bala Tentara Jepang yang pernah ditawan di daerah Temanggung. Bambang Sugeng sendiri dimakamkan di Kranggan di sebelah jembatan sungai Progo berjarak 3 Km dari Museum ke arah Timur. Jembatan Progo sendiri menyimpan kisah heroisme masa perang kemerdekaan sebab di tempat ini ratusan pejuang dieksekusi oleh pasukan Belanda.

C. POTENSI WISATA BUDAYA
1. Candi Pringapus
Peninggalan kebudayaan Hindu – Budha ini bisa dijadikan obyek penelitian kebudayaan masa lampau. Candi Pringapus dengan arca-arca berartistik Hindu Sekte Shiwaistis dibangun pada tahun 850 Masehi. Ini merupakan Replika Mahameru sebagai perlambang tempat tinggal para Dewata. Hal ini terbukti dengan adanya hiasan Antefiq dan Relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makluk setengah dewa. Candi ini terletak di desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo berjarak 22 Km arah Timur Laut dari Kota Temanggung. Banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara seperti Belgia, Amerika, dan Belanda.



2. Prasasti Gondosuli
Reruntuhan candi yang dibangun pada jaman Sriwijaya masih bisa menjadi saksi bisu kebudayaan masa lampau karena masih ada batu prasasti yang kini dilindungi sebagai Cagar Budaya. Peninggalan sejarah yang dapat dijadikan obyek penelitian bagi perkembangan sejarah dan kebudayaan. Bebatuan candi memang tidak utuh lagi berdiri sebagai candi, namun keberadaan Candi Gondosuli tetap menambah potensi obyek wisata budaya. Lebihlebih di kawasan ini terdapat sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Gondosuli. Isi prasasti itu adalah sebuah legitimasi kejayaan Rakarayan Patapan Pu Palar pada masa pemerintahan Rakai Garung Raja Mataram dinasti Sanjaya. Prasasti ini terletak di Desa Gondosuli Kecamatan Bulu berjarak 7 km arah Barat dari kota Temanggung. Perjalanan bisa dikemas dalam jalur wisata : Pikatan Indah – Monumen Meteorit – Bale Kambang – Prasasti Gondosuli – Pendakian Gunung Sumbing.

3. Suran Traji
Siapapun yang jadi Kepala Desa harus berpakaian seperti pengantin Jawa pada Malam tanggal 1 Suro, kemudian dikirabkan menuju Sundang Sidhukun dan dilakukan acara sesaji serta pentas wayang kulit.
4. Makam Ki Ageng Makukuhan
Konon ceritanya Ki Ageng Makukuhan adalah orang pertama di bumi Kedu Temanggung. Makam Ki Ageng Makukuhan di desa Kedu dikenal sebagai obyek wisata ziarah. Terletak sekitar 5 Km arah utara dari kota Temanggung. Banyak peziarah yang datang dari luar daerah terutama di malam Jum’at Kliwon dan malam Selasa Kliwon. Mereka bersemadi untuk berbagai kepentingan atas dasar kepercayaan masing-masing. Ada versi yang menyebutkan Makam Ki Ageng kemudian dipindahkan ke puncak gunung Sumbing, oleh karenanya banyak pula pendaki yang ingin berziarah sekaligus melakukan perjalanan wisata pendakian gunung Sumbing.
5. Tradisi Jum’at Pahingan
Malam Jum’at Pahingan adalah tradisi berdzikir di Masjid desa Menggoro kecamatan Tembarak kurang lebih 7 km arah Selatan kota Temanggung. Banyak pengunjung dari berbagai kota seperti Pekalongan, Semarang, Solo, Wonosobo, Purwokerto, dan Magelang dengan berbagai tujuan. Umumnya mereka membaca ayat suci Al Qur’an, dzikir, membaca doa-doa, menjalankan nadzar, ada pula yang sekedar ingin mengadu nasib dengan memeluk salah satu tiang masjid yang dikenal dengan Soko Guru karena konon bisa mengetahui rejekinya jauh atau dekat.

Review : www.temanggungkab.go.id

Entri Populer

Kartun

 
© Copyright 2012 : Media Belajarku
Template by : Blogger Templates | ZonaBlogger.com | Didukung Oleh : Blogger.com